Iklan

Saturday, January 26, 2013

Analisis model kepemimpinan Soekarno



dr.(hc) ir. soekarno nama lengkap dari soekarno (er, eyd: sukarno, nama lahir: koesno sosrodihardjo) (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 6 Juni 1901 – meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun) adalah Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode 1945–1966. Ia memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945. Soekarno adalah yang pertama kali mencetuskan konsep mengenai Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia dan ia sendiri yang menamainya.
Model Kepemimpinan Soekarno
Kepemimpinan SoekarnoA. Karir Kepemimpinan Soekarno
Soekarno memulai karirnya sebagai pemimpin organisasi pada usia 26 tahun,tepatnya 14 Juli 1927. Pada saat itu beliau memimpin sebuah partai politik yaitu Partai Nasional Indonesia (PNI) yang mempunyai arah perjuangan kemerdekaan bagiIndonesia. Hal ini mengakibatkan para pimpinan PNI termasuk Soekarno ditangkap dandiadili oleh pemerintahan kolonial Belanda. Tetapi pada saat di dalam proses pengadilan Soekarno malah menyampaikan pandangan politiknya mengenai gugatannyaterhadap pemerintahan yang terkenal dengan
 Indonesia menggugat 

Sikap Soekarno sebagai pemimpin bangsa pada saat itu sangat menekankan pentingnya persatuan dalam nasionalisme, kemandirian sebagai sebuah bangsa dan anti pejajahan. Hal ini tercermin di dalam pidato-pidato beliau dalam menggelorakansemangat revolusi secara besaran-besaran untuk lepas dari belenggu imperialisme.Akhirnya Soekarno berhasil menggelorakan semangat revolusi dan mengajak berdiri diatas kaki sendiri bagi bangsanya, walaupun belum sempat berhasil membawa rakyatnyadalam kehidupan yang sejahtera. Konsep “berdiri di atas kaki sendiri” memang belumsampai ke tujuan tetapi setidaknya berhasil memberikan kebanggaan pada eksistensi bangsa. Daripada berdiri di atas utang luar negeri yang terbukti menghadirkanketergantungan dan ketidakberdayaan (neokolonialisme).Sikap tersebut mengakibatkan Belanda membubarkan organisasi PNI sehinggaSoekarno dan teman seperjuangannya bergabung dengan Partindo pada bulan Juni tahun1930. Setelah melalui perjuangan yang panjang bahkan beliau pernah dipenjara kembalioleh Belanda namun tidak menyurutkan langkah perjuangannya. Pada akhirnya, padatanggal 17 Agustus 1945 Soekarno bersama Muhammad Hatta berhasilmemproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia menandai berdirinya negara yang berdaulat. Sebelumnya, ia juga berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadidasar (ideologi) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia berupaya mempersatukannusantara. Bahkan ia berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, danAmerika Latin dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok.Setelah pemerintahan berjalan di tangan bangsa Indonesia, Soekarno memimpin pemerintahan dan mengalami berbagai fase dalam pemerintahannya. Fase pertama
http://sync.mathtag.com/sync?mt_exid=2&admeld_user_id=d54fc4a1-8321-40be-9277-fbf6333ceb70&admeld_adprovider_id=296&admeld_call_type=redirect&admeld_callback=http://tag.admeld.com/match 
pemerintahan Presiden Soekarno (1945-1959) diwarnai semangat revolusioner, sertadipenuhi kemelut politik dan keamanan. Belum genap setahun menganut sistem presidensial sebagaimana yang diamanatkan UUD 1945, pemerintahan Soekarnotergelincir ke sistem semi parlementer. Pemerintahan parlementer pertama dan keduadipimpin oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Pemerintahan Sjahrir dilanjutkan oleh PMMuhammad Hatta yang merangkap Wakil Presiden.Kepemimpinan Soekarno terus menerus berada di bawah tekanan militer Belanda yang ingin mengembalikan penjajahannya, pemberontakan-pemberontakan bersenjata, dan persaingan di antara partai-partai politik. Sementara pemerintahan parlementer jatuh-bangun. Perekonomian terbengkalai lantaran berlarut-larutnyakemelut politik. Ironisnya, meskipun menerima sistem parlementer, Soekarnomembiarkan pemerintahan berjalan tanpa parlemen yang dihasilkan oleh pemilihanumum. Semua anggota DPR (DPRGR) dan MPR (MPRS) diangkat oleh presiden dari partai-partai politik yang dibentuk berdasarkan Maklumat Wakil Presiden, tahun 1945.
Demi kebutuhan membentuk Badan Konstituante untuk menyusun konstitusi barumenggantikan UUD 1945, Soekarno menyetujui penyelenggaraan Pemilu tahun 1955, pemilu pertama dan satu-satunya Pemilu selama pemerintahan pada saat itu. Pemilutersebut menghasilkan empat besar partai pemenang yakni PNI, Masjumi, NU dan PKI.Usai Pemilu, Badan Konstituante yang disusun berdasarkan hasil Pemilu, mulai bersidang untuk menyusun UUD baru. Namun sidang-sidang secara marathon selamalima tahun gagal mencapai kesepakatan untuk menetapkan sebuah UUD yang baru.Menyadari bahwa negara berada di ambang perpecahan, Soekarno dengandukungan Angkatan Darat, mengumumkan dekrit 5 Juli 1959. Isinya; membubarkanBadan Konstituante dan kembali ke UUD 1945. Sejak 1959 sampai 1966, Bung Karnomemerintah dengan dekrit, menafikan Pemilu dan mengangkat dirinya sebagai presidenseumur hidup.
Pemerintahan parlementer yang berpegang pada UUD Sementara, juga jatuh dan bangun oleh mosi tidak percaya. Akibatnya, kondisi ekonomi kacau.Pada fase kedua kepemimpinannya, 1959-1967, Soekarno menerapkandemokrasi terpimpin. Semua anggota DPRGR dan MPRS diangkat untuk mendukung program pemerintahannya yang lebih fokus pada bidang politik. Bung Karno berusahakeras menggiring partai-partai politik ke dalam ideologisasi NASAKOM—Nasional,Agama dan Komunis. Tiga pilar utama partai politik yang mewakili NASAKOM adalah
 
PNI, NU dan PKI. Bung Karno menggelorakan Manifesto Politik USDEK. Diamenggalang dukungan dari semua kekuatan NASAKOM. Namun di tengah tingginya persaingan politik Nasakom itu, pada tahun 1963, bangsa ini berhasil membebaskanIrian Barat dari cengkraman Belanda.Tahun 1964-1965, Soekarno kembali menggelorakan semangat revolusioner  bangsanya ke dalam peperangan (konfrontasi) melawan Federasi Malaysia yangdidukung Inggris. Sementara, dalam kondisi itu, tersiar kabar tentang sakitnyaSoekarno. Situasi semakin runyam tatkala PKI melancarkan Gerakan 30 September 1965. Tragedi pembunuhan tujuh jenderal Angkatan Darat tersebut menimbulkan situasichaos di seluruh negeri dan menyebabkan kondisi politik dan keamanan hampir tak terkendali.Menyadari kondisi tersebut, Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Perintah 11Maret 1966 kepada Jenderal Soeharto. Ia mengangkat Jenderal Soeharto selakuPanglima Komando Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) yang bertugasmengembalikan keamanan dan ketertiban. Langkah penertiban pertama yang dilakukanSoeharto, sejalan dengan tuntutan rakyat ketika itu, membubarkan PKI. Soekarno,setelah tragedi berdarah tersebut, dimintai pertanggungjawaban di dalam sidangistimewa MPRS tahun 1967. Pidato pertanggungjawabannya ditolak. KemudianSoeharto diangkat selaku Pejabat Presiden dan dikukuhkan oleh MPRS menjadiPresiden RI yang Kedua, Maret 1968.
B. Gaya Kepemimpinan Soekarno
Melihat bagaimana seorang Soekarno memimpin di dalam sebuah organisasimaupun pemerintahan, menunjukkan perannya yang sentral sebagai seorang pemimpinsejati, sebagai seorang inspirator, idealis dan sebagai simbol perjuangan rakyat dalammenegakkan negara yang berdaulat yang dapat dijadikan sebagai panutan. Akan tetapi,ia akhirnya dijadikan kambing hitam atas peristiwa yang mengakibatkan kekacauan politik di masa akhir kepemimpinannya. Dan gaya yang diterapkannya jelasmenunjukkan bahwa Soekarno merupakan tipe pemimpin yang demokratis denganmengedepankan semangat persatuan di atas kepentingan golongan, kelompok, ras, suku,agama tertentu akan tetapi juga ada yang menilainya sebagai pemimpin yang bertipe
http://tag.admeld.com/match?admeld_adprovider_id=338&external_user_id=C3D0C0ADACBC914E614446740258EF8B
otoriter karena terkesan memaksakan kebijakan pemerintahannya kepada lembagalegislatif pada saat itu.Sebagai seorang pemimpin sejati soekarno mampu membawa arah perjuangantetap konsisten meskipun banyaknya rintangan yang dihadapinya. Dapat dijadikancontoh ketika beliau berkali-kali dipenjara oleh pemerintahan kolonial, beliau tetaptegar bahkan semakin lantang dalam menentang penjajahan sampai memperolehkemerdekaannya.Dalam hal sebagai inspirator atau seorang idealis Soekarno dapat menunjukkan prestasinya melalui rumusan Pancasila yang menjadi dasar negara hingga sekarangdisamping pemikiran-pemikiran yang lain seperti Marhaenisme, kemandirian untuk hidup di atas kaki sendiri, nasionalisme persatuan di atas perbedaan yang ada di dalamnegara dan satu idealisme yang kontroversial mengenai konsep NASAKOM(Nasionalis, Agama dan Komunis) demi tercapainya persatuan bangsa mencapaieksistensinya di dalam mempertahankan kemerdekaan. Sebagai pemimpin yang idealis,Soekarno tidak mudah terpengaruh dengan keadaan bangsa ketika dihadapkan padasituasi yang sedang gawat.
Beliau tetap berada untuk berada di atas prinsipnya sendiridan menghindari campur tangan asing. Idealis seperti ini tercermin dengan seringnya pergantian sistem pemerintahan demi mengatasi masalah di dalam keadaan yang berbeda-beda. Bahkan idealismenya terlihat agak otoriter karena harus memaksakankeputusannya dalam mengatasi krisis dengan dekrit presiden, dan mengangkat dirinyamenjadi presiden seumur hidup misalnya.Pada masa perjuangan menegakkan kedaulatan bangsa, Soekarno layak disebutsebagai simbol perjuangan karena pada saat itu beliau mampu tampil sebagai diplomatdan orator yang mampu mengobarkan semangat perjuangan rakyat. Keberanian beliauterlihat ketika menyuarakan secara berapi-api tentang revolusi nasional, antineokolonialisme dan imperialisme. Dan juga kepercayaannya terhadap kekuatan massa,kekuatan rakyat. Beliau adalah seorang pemimpin yang rendah hati disamping sebagaiseorang pemberani. Sifat ini dapat dilihat dari dalam karyanya ‘Menggali ApiPancasila’. Beliau berkata “Aku ini bukan apa-apa kalau tanpa rakyat. Aku besar karenarakyat, aku berjuang karena rakyat dan aku penyambung lidah rakyat,” Maka pantasapabila beliau dijadikan simbol perjuangan rakyat karena ketulusannya demi dan untuk rakyatnya.
                Pada akhirnya, Soekarno tetaplah manusia biasa yang tidak terlepas darikesalahaan yang harus beliau bayar dengan melepaskan jabatannya sebagi PresidenRepublik Indonesia yang pertama. Pada akhir jabatannya beliau dianggap bersalahdengan terjadinya tragedi G 30 S PKI yang mengakibatkan beliau harus menjadikambing hitam (as scapegoat) atas terjadinya peristiwa itu dan harus turun tahta dari pemimpin bangsa setelah beliau berhasil mengawalinya

Kelebihan :
Paling karismatik baik terhadap rakyat dan kaum wanita, Berani melawan kekuatan asing, komunikator ulung, pergaulan internasional terbaik.
Dari beberapa penilaian orang luar negri tentang kelebihan soekarno yaitu:Howard Jones, dutabesar Amerika Serikat untuk Indonesia pada masa itu pernah mengatakan kepada koleganya di Washington bahwa Sukarno adalah gabungan antara Clark Gable dan Roosevelt. Ini perpaduan sempurna antara seorang superstar tampan yang dipuja banyak perempuan dengan keteguhan seorang negarawan yang diwakili Roosevelt. Pernyataan Howard sampai ke telinga Sukarno. Ia pun senang. Kepada Jones ia mengatakan sesungguhnya ia akan lebih senang kalau dianggap lebih menyerupai Clark Gable dibanding Rosevelt.
Karakter ini pula yang menjelaskan mengapa ia mudah terpukau dengan segala keindahan. Segala sesuatu berkait dengan keindahan pun melekat sepanjang hidupnya, mulai dari sastra, seni pertunjukan, rupa, dan lukis dan termasuk juga gadis-gadis cantik di sekitarnya. Semua menjadi alasan vitalitas enerjik seorang pria yang kemudian memegang tampuk kekuasaan tertinggi di dalam masyarakatnya.
Ia menikmati karya seni dan sanggup memberikan apresiasi terhadap seniman dan mutu karya yang mereka ciptakan sesuai dengan horison intelektualitasnya. “Kami memang merasa sebal dengan minatnya terhadap perempuan.  Tapi kami sangat terkesan dengan antusiasme dan ketertarikannya terhadap lembaga pendidikan, seni, patung dan musik kami. Itu semua bukan sekedar ketertarikan seorang amatiran. Ia tahu banyak dan memiliki perasaan yang mendalam terhadap semua itu,” ujar seorang pejabat protokol bangsa Eropa dalam kunjungan kenegaraan Sukarno di negerinya (Jones: 64).
Dari sini kita melihat bahwa kehidupan pribadinya pun adalah sebuah lukisan penuh warna tanpa basa-basi. Semua hadir apa adanya.
Kelemahan :
 Ide Nasakom justru membuat pertentangan antar anak bangsa yang menjatuhkannya.
Selain dari segi terdapat pula kelemahan dalam kepemimpinannya antara lain:
Ia tidak memiliki alat-alat politik seperti Ho Chi Minh dengan organisasi Vietminh yang menghubungkannya dengan jutaan massa petani di perdesaan. Ia juga tidak memiliki kader seperti Vo Nguyen Giap yang membantunya membentuk Tentara Pembebasan Nasional Vietnam dan menerjemahkan orientasi politik menjadi sebuah tindakan militer. Sukarno hanya dikelilingi oleh pengagum, pengikut dan juga lawan-lawan politik yang berharap dapat meraih keuntungan melalui kedekatan pribadi dengan Sukarno.
Kekuatan politik Sukarno terbesar, yaitu kharisma pribadinya, pada akhirnya menjadi ironi terbesar yang menjadi batu sandungan dalam menjalankan roda kekuasaan itu. Sukarno lebih banyak dikelilingi orang-orang yang menjadi tangan kanan dan kiri dalam agenda-agenda politiknya. Ia mengatur bagaimana dan kapan tangan kanan dan tangan kirinya bergerak dalam momen politik tertentu.
Tetapi pengagum dan pengikut bukanlah kader yang mampu mengembangkan inisiatif dan imajinasi mandiri. Mereka bergerak dalam batasan yang menurut bayangan mereka sendiri sesuai dengan maksud pribadi Sukarno dan membuat interpretasi atas fakta-fakta terkait dengan sosok presiden. Pada akhirnya Sukarno selalu sendirian. Ia tidak memiliki rival sebagai alter-ego yang menandinginya, termasuk juga tidak memiliki kader yang melanjutkan apa yang menjadi cita-cita pribadinya. Ketika Sukarno jatuh dari tampuk kekuasaan, para pengagum dan pengikut pun ikut jatuh bersamanya. Sebagian yang berusaha bertahan hidup dalam suasana baru memilih meninggalkannya.
Dalam kaitan ini kita menilai ‘cara’ Sukarno menjalankan kekuasaannya. Memasuki era 1960an, Sukarno mengatur dinamika politik dengan menjaga pendulum keseimbangan politik untuk selalu di tengah dan terpusat pada dirinya sebagai pemimpin tertinggi.  Ketika PKI dihancurkan Sukarno kehilangan pendulum itu. Sesaat ia mencoba menciptakan pendulum keseimbangan baru, menggantikan kata Nasakom menjadi Nasasos sebagai cara ia mengendalikan kekuasaan. Tetapi semua terlambat dan Sukarno pun jatuh tergelincir.
Di luar politik dalam negeri, pandangan dan sikap politik luar negeri Sukarno adalah salah satu unsur penting yang mempercepat kejatuhannya.
Ia menolak terlibat dalam pakta pertahanan yang diusulkan Amerika Serikat, SEATO. Sebaliknya ia berbicara tentang pembebasan dan netralitas dunia ketiga dalam politik non-blok. Penolakan dan tindakan Soekarno bagi para petinggi di  Washington pada akhirnya menjadi tidak lebih sekedar sebuah ‘lelucon orang sombong.’
Marshall Greens, duta besar Amerika Serikat menjelang masa kejatuhan Soekarno, menggambarkan rasa tidak suka terhadap sosok Soekarno dalam pernyataannya bahwa, ‘[p]enampilannya dengan berpeci tampak mirip Mussolini, dengan seragam militer yang tampan, tongkat komando, serta kefasihan pidato yang menimbulkan gairah.

Kesimpulan:
Soekarno memang telah menciptakan suatu konsep untuk menyatukan bangsa dengan Pancasilanya bahkan dengan pancasila ini semua yang berbeda-beda merasa satu dan kesatuan, menimbulkan sikap kebersamaan gotong royong dan beliau merupakan proklamator kemerdekaan untuk Negara Indonesia. Namun  walau bagaimanapun seseorang pemimpin politik tentu memiliki kekurangan yang menjadi kehancuran kepemimpinannya. Namun dari sekian banyak kekurangan yang dimiliki hendaknya kekurangan ini menjadi pelajaran untuk pemimpin selanjutnya.

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Soekarno
http://loka-majalah.com/archives/966
http://hanggara-inginpintar.blogspot.com/2011/12/gaya-kepemimpinan-bungkarno.html

No comments:

Post a Comment